URGENSI PEMUDA SEBAGAI AGEN PEMERSATU ETNIS DAN AGAMA DI PAPUA

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI MATEMATIKAJAYAPURA
2011
URGENSI PEMUDA SEBAGAI AGEN PEMERSATU
ETNIS DAN AGAMA DI PAPUA


Oleh
Radian Januari Situmeang
010 054 0002

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara yang memerdekakan diri dari penjajahan Belanda pada tanggal 17 agustus 1945. Sejak Indonesia merdeka, permasalahan bersifat kemasyarakatan, seperti ideologi, etnis dan agama kerap muncul. Mulai dari adanya Partai Komunis Indonesia, upaya-upaya daerah untuk memisahkan diri dari NKRI, pemaksaan penggantian ideologi Pancasila, Negara Islam Indonesia (NII) dan lain sebagainya. Bahkan sebagian dari masalah ini masih berlangsung sampai saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat Indonesia. Mengapa masyarakat Indonesia begitu muda terpecah ?
Indonesia merupakan negara heterogen yakni, negara yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Tercatat ada sekitar 1.128 suku bangsa dan 6 agama resmi di Indonesia . Hal ini dapat menjadi sebuah kelebihan namun menjadi tantangan bagi bangsa. Ditambah lagi dengan belum meratanya pembangunan di bidang pendidikan dan ekonomi yang mengakibatkan pembangunan disegala bidangpun mengalami hambatan, sehingga penduduk yang tidak merasakan hasil dari pembangunan tersebut, lebih memilih menetap di tempat asalnya, karena tidak mampu untuk beradaptasi keluar dari lingkungan yang lebih baik
Manusia adalah makhluk sosial dimana ia akan membawa budayanya dan pengetahuannya dalam bersosialisasi dan beradaptasi terhadap lingkungannya. Hal ini dapat menimbulkan culture shock (guncangan budaya) ketika manusia menerima/ bertemu dengan budaya lain, terlebih lagi yang sulit untuk diterima oleh sisi pemikirannya sendiri. Tak jarang terjadi perselisihan dan pertikaian saat budaya dan paham masing-masing dipertahankan.
Papua merupakan salah satu provinsi Indonesia yang memiliki populasi penduduk sebesar 2.815.999 jiwa dengan luas wilayah 420.540 Km² yang merupakan pulau terbesar ke dua di dunia setelah Greenland, ironisnya kepadatan penduduk di Papua hanya mencapai 9,2/Km^2 , yakni terdiri dari 255 suku asli papua dan ditambah suku non papua/pendatang seperti jawa,batak,bugis,huli, dan tionghoa
Dalam era modernisasi seperti sekarang ini perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi menyebabkan perpindahan penduduk begitu gampangnya, bahkan di Papua tercatat dari 2.815.999 jiwa, 52 persennya suku bangsa asli Papua dan sisanya (48%) merupakan suku-suku pendatang (tahun 2002) . Hal ini dapat menyebabkan culture shock dalam kehidupan bermasyarakat di Papua.
Tentunya dibutuhkan sebuah media penyatu ,pentolerir, penerjemah budaya agar tidak terjadi kesenjangan budaya, yang mengakibatkan konflik, perselisihan, dan pertikaian yang sesungguhnya tak perlu terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat

PERUMUSAN MASALAH
Keberagaman Etnis dan Agama dalam kehidupan bermasyarakat di Papua
Peranan Pemuda sebagai Pemersatu Antar Etnis dan Agama

TUJUAN
Memenuhi tugas Pendidikan Kewarganegaraan yang diberikan
Memahami Urgensi Pemuda sebagai Agen Pemersatu Antar Etnis dan Agama di Papua

BAB II
PEMBAHASAN

ETNIS DAN AGAMA
ETNIS

Dalam kehidupan tiap-tiap manusia sehari-harinya tentu memiliki budaya yang ia gunakan, didalam ia bersikap dan berperilaku terhadap saudara atau sesamanya ia memakai bahasa, norma-norma dan nilai sebagai acuan dalam ia bertindak. Hal ini yang mendasari adanya Etnis. yakni kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Dan anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, adat-istiadat serta tradisi . Biasanya anggota kelompok etnis merupakan mereka yang memiliki ikatan darah dalam adat ataupun pernikahan. Etnis bersifat mengikat mengikuti garis keturunan.
Etnis sendiri membantu manusia berperilaku berdasarkan aturan-aturan, norma-norma dan nilai-nilai yang ia punya, meskipun kebenarannya tidak valid, karena kebenaran nilai dan norma tersebut sebatas keyakinan manusia yang menganut, pada nilai dan norma itu sendiri. Bahasa daerah, nilai dan norma luhur,serta tatakrama, merupakan warisan dari leluhur, bukan sekedar sebuah warisan namun merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat, yang disebut juga Budaya, menurut Edward B. Tylor .
Budaya tidak dapat dipaksakan, kita yang memiliki budaya berbeda dengan orang lain, tidak dapat memaksan kehendak kita agar orang tersebut mengikuti budaya kita, begitupun sebaliknya. Budaya akan tetap ada sebagai hasil ekspresi manusia. Namun disinilah kelemahan Indonesia, sebagai negara yang memiliki beragam macam Budaya dari berbagai suku bangsa.
Kebanyakan masyarakat Indonesia menilai dan mengukur suku lain berdasarkan “kaca mata” sendiri. Hal ini yang menyebabkan adanya konflik sosial, seperti kerusuhan yang terjadi di Poso, kerusuhan Ambon, kerusuhan Kalimantan selatan, Kerusuhan Manggarai, dan lain sebagainya. Tentu hal ini tidak diharapkan muncul di kehidupan sosial masyarakat Papua. Apa jadinya jika 255 suku bangsa di Papua menilai dan mengukur budaya dari suku lain berdasarkan budayanya ?.

AGAMA
Agama atau kepercayaan merupakan sebuah hal dasar yang ada pada kehidupan manusia. Agama pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) unsur yakni Kepercayaan dan Ritual. Kedua unsur ini dianut dan diaplikasikan oleh manusia sebagai pengatur dirinya sendiri agar tidak kacau. Agama sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, “A” yang artinya “Tidak” , dan “GAMA” yang artinya “Kacau”
Agama membantu manusia mempunyai visi dalam bertindak dan mempunyai pegangan panduan dalam bersikap terhadap sesamanya. Tidak semua manusia memiliki agama yang sama. Hampir sama dengan etnis, namun agama lebih bersifat umum, Agama tidak mengikat suku, tidak mengikat manusia, setiap manusia bisa memiliki agama yang sama walaupun berbeda suku.
Namun, perbedaan agama atau kepercayaan kerap menjadi masalah. Mulai dari sikap egois kemayoritasan suatu agama di sebuah daerah, ataupun saling salah paham terhadap agama lain yang berujung pada pembakaran rumah ibadah di jawa, pelarangan ibadah, kekerasan fisik beratas namakan agama,dan lain sebagainya. Hal ini sulit untuk dihindari karena, tingkah laku manusia diseluruh dunia menjadi patokan menilai agamanya. Hal ini yang tidak disadari oleh masyarakat Indonesia, bahwa perilaku menyimpang tidak selamanya adalah ajaran dari suatu agama, melainkan muncul dari diri manusia itu sendiri.

 

PEMUDA
DEFINISI PEMUDA

Menurut WHO pemuda digolongkan berdasarkan usia, yakni 10-24 tahun. Definisi lainnya,.United Nations General Assembly “Youth Programme works with “young people (aged 15-29)” . Dan menurut Government of Tasmania “Youth is people between the ages of 20 and 25.” . Menurut draft RUU Kepemudaan, Pemuda adalah mereka yang berusia antara 18 hingga 35 tahun. Berdasarkan International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda. . Dari berbagai definisi pemuda tersebut, secara umum pemuda digolongkan berdasarkan rentang usia yaitu di bawah 35 tahun.

PERANAN PEMUDA
Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan.
Banyak sekali peran pemuda Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan RI, mulai Dr. Soetomo mendirikan Budi Utomo (1908) pada usia belum genap 20 tahun, Soewardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mendirikan Indische Partij (1914) pada usia 20 tahun, Bung Karno mulai terkenal di panggung politik pada usia 22 tahun, Mohammad Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia (1924) di Belanda sewaktu berusia 21 tahun dan masih banyak lagi. Bahkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai tonggak persatuan tekad dalam meraih kemerdekaan.
Semuanya adalah peran pemuda zaman dulu, zaman disaat para pemuda berbeda asal merasakan hal yang sama, yakni penjajahan. Sekarang ?. Zaman sekarang ketika Indonesia tidak mengenal penjajahan, tidak memegang senjata, dan tidak merasakan kelaparan, apakah peran pemuda telah tiada ?.
Justru disaat ini peran pemuda sangatlah penting, sifat pemuda yang dinamis, mudah beradaptasi, penuh semangat meraih impian, punya banyak misi dalam hatinya, harus bisa menunjukan perannya di dalam masyarakat, yakni dapat menjadi social control dan sebagai pemersatu etnis dan agama
Banyak permasalahan yang terjadi akibat perbedaan etnis dan agama, terlebih lagi di papua. Masalah yang kerap terjadi bukan karena ada salah satu etnis yang salah, namun karena adanya ketidakpengertian masyarakat terhadap adanya perbedaan etnis.
Banyak contoh konflik sosial karena perbedaan etnis dan agama yang terjadi, seperti kerusuhan di Poso, konflik masyarakat Bugis-Asmat di Kalimantan, dan masih banyak lagi. Namun bagaimana mengatasi permasalahan yang terjadi di era modern ini ?. Hukum bukan menjadi jawaban dari masalah perbedaan etnis, karena hukum hanya memberikan sanksi dan tidak memberikan solusi.
Disinilah letak peran pemuda, Dalam segala aktifitasnya mulai dari Organisasi Masyarakat, Organisai Mahasiswa di bawah payung Perguruan Tinggi, Organisasi Kepemudaan mengatasnamakan seni dan sportifitas dan lain sebagainya, telah mampu menunjukan kepada masyarakat, bahwa melalui aktifitas dan organisasi pemuda ada timbul rasa toleransi terhadap buadaya lain, ada timbul rasa persatuaan dalam perbedaan paham. Meskipun hasilnya belum maksimal
Papua merupakan pulau dengan penduduk jumlah suku terbanyak. Terdapat lebih dari 255 suku bangsa (termasuk nonpapua) yang tinggal di Papua. Begitu banyaknya suku di Papua membuat potensi terjadinya konflik begitu besar. Terlebih lagi keadaan ekonomi yang tidak merata membuat kecemburuan sosial terhadap daerah dan suku lain meningkat, bila ini terus terjadi hubungan antar masyarkat akan memburuk.
Daerah yang terdapat pemuda yang tidak mampu menyadari peranannya, akan terjadi konflik sosial. Dimulai dari ketidak sesuaian menerima budaya baru dan ketidakcocokan menerima paham lain dari luar, menyebabkan tidak ada rasa toleransi akan adanya etnis dan agama baru.
PEMUDA ZAMAN SEKARANG
Sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini, Pemuda tidak lagi sebagai motor penggerak perubahan dan pengawas kebijakan pemerintah. Para kaum muda yang bergerak dibidang politik sudah sangat sedikit yang melihat pentingya peranan mereka ditengah masyarakat Papua. Disaat Pemuda mulai bergerak berlomba-lomba menguasai setiap aspek pemerintahan, pemuda tidak lagi menjadi agen pemersatu etnis dan agama di Papua melainkan menjadi sebuah momentum “kesombongan” akan anggota etnis atau agama tersebut, sehingga fungsi pemuda sebagai Agen permersatu etnis dan agama di Papua terabaikan.
Pemuda masa kini juga lebih suka berorganisasi lewat dunia maya, melalui situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Hal ini memang lebih mudah mendapatkan anggota dengan cara pandang dan visi yang sama, namun tidak menjawab permasalahan yang real, permsalahan yang nyata didalam kehidupan bermasyarakat di Papua.
Kemajuan teknologi informasi memang baik. Namun, sekali lagi pembangunan di Papua belumlah merata ditiap provinsi dan kampung-kampung, sehingga pengikut organisasi dunia maya bukanlah mereka yang melihat jelas situasi yang ada ditengah-tengah masyarakat Papua

MENYADARKAN PENTINGYA PERANAN PEMUDA
Dibutuhkan pembinaan yang intensif terutama pembinaan moral, agar pemuda memiliki rasa tanggung jawab untuk membangun serta berjuang untuk kepentingan masyarakat, tidak hanya untuk kepentingan pribadinya. Pendidikan multibudaya dan pengamalan pancasila sejak mulai bersekolah membantu Papua menghasilkan pemuda-pemuda yang bisa menjadi pemimpin rakyatnya menuju kebersamaan dan keharmonisan bermasyarakat.
Pendidikan multibudaya dapat diberikan dalam setiap aspek sekolah kepegawaian, kurikulum, disipliner kebijakan, keterlibatan siswa, dan orang tua dan keterlibatan masyarakat, Nieto (1992) menyebutkan bahwa pendidikan multibudaya bertujuan untuk sebuah pendidikan yang bersifat anti rasis . Sehingga setiap pemuda tidak memiliki rasa rasisme
Peranan pemerintah sangatlah penting dalam menjaga stabilitas negara, terlebih lagi di Papua dimana tubrukan budaya antar etnis dan agama sangatlah mudah. Peranan pemerintah bukan hanya dari segi ekonomi, pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana, melainkan dalam menanamkan Wawasan Nusantara kepada pemuda, dimana pemuda diharapkan mampu menjadi tolerator, “penerjemah” , pemersatu dari perbedaan etnis dan agama. Sehingga pemuda secara tidak lansung telah menjadi agen pemersatu antar etnis dan agama.
Menurut Prof. Dr. Wan Usman, Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam . Dengan mengajarkan Wawasan Nusantara kepada mahasiswa melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, mahasiswa sebagai pemuda yang terdidik mampu menyadari bahwa Indonesia memilki keberagaman diberbagai aspek kehidupan, sehingga seorang mahasiswa bersifat tolerir juga mampu menjadi contoh masyarakat, dalam bertindak dan bersikap terhadap etnis dan agama lain
Namun pemahaman wawasan nusantara yang diberikan tentu tidak merata disetiap daerah terlebih lagi di daerah dengan pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah. Hal ini menjadi PR bagi pemerintah dalam membangun Papua.
Bila tidak ada perubahan, Papua akan mengalami suatu titik dimana tidak adanya saling percaya antar etnis dan agama, Perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat akan bersifat kolusi (bersifat sepihak) sehingga pembangunan di tanah Papua tidak berjalan. Lebih parah dari itu, Kehidupan bermasyarakat di Papua tidak akan harmonis, Sistem perekonomian dan sosial tidak lagi bisa diatur pemerintah. Hal ini tidak saja berdampak pada suku nonpapua, melainkan pada taraf lebih parah akan berdampak pada sesama suku Papua, karena dari 255 suku asli Papua akan saling berlomba membangun daerahnya sendiri, dan menyingkirkan kepentingan daerah yang memiliki etnis dan agama minoritas.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan dapat dilihat penyebab terjadinya konflik diakibatkan karena belum siapnya masyarakat dalam menerima budaya lain.
Peran pemuda sangatlah penting dalam kehidupan bermasyarakat di Papua. Tidak hanya menjadi generasi penerus, generasi pembaharu, namun sebagai agen pemersatu etnis dan agama.
Peran pemerintah belum nyata didalam membangun karakter bangsa. Pemerintah belum siap dalam mencegah benturan budaya yang akan dan sudah terjadi. Pemerintah belum bisa membangun kepercayaan pemuda terhadap pemerintah, dan pemerintah belum sepenuhnya sadar bahwa keberhasilan pembangunan karakter pemuda harus didukung dengan mencerdasakan dan mensejahterahkan kehidupan masyarakat Papua.

SARAN
Saran saya , dari segala bentuk perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, baik karena kemajuan zaman maupun kebijakan pemerintah, tidak boleh mempengaruhi pemuda –pemuda di Papua dan menjadikan pemuda lemah serta tidak mampu beradaptasi.
Pemuda-pemuda di Papua dihadapkan dengan dua pilihan untuk masa depan Papua,
Pilihan pertama, menjadi cerdas dan menjadi generasi penerus yang mengetahui pentingnya peran sebagai agen pemersatu bangsa. Dan membangun Papua menjadi bangsa yang sejahterah
Atau pilihan kedua, menjadi bodoh dan tetap berpikiran sukuisme, hingga generasi berikutnya dan generasi seterusnya tidak mampu memperbaiki kekacauan dan tidak mampu lagi menjadi pembaharu akan kegagalan itu
Saya menyarankan melalui makalah ini, pembaca mengerti akan pilihan yang dihadapkan kepada pemuda-pemuda di papua, dan memberikan pemahaman ini seluas-luasnya demi kemajuan masyarakat Papua.
Melalui makalah ini saya berharap pemuda-pemuda di Indonesia khususnya di Papua, tidak pasrah dan menunggu kebijakan pemerintah melainkan melakukan reformasi karakter diri. Sehingga terwujudlah kehidupan yang harmonis dan sejahterah

DAFTAR PUSTAKA 

Anonymus A, Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia ,2011
Anonymus B, Papua, http://id.wikipedia.org/wiki/Papua , 2011
Anonymus C, Sekilas Papua, http://www.papua.go.id/
Najamuddin Gani, SH. M Si.,Materi Kuliah Pendidikan Kewaganegaraan,
Edisi Reformasi. Hal. 11
Nieto, S. AFFIRMING DIVERSITY. New York: Longman, 1992
Rachfriwijaya Andrey, Peran Pemuda Sebagai Agen Perubahan,
http://andrey2417.wordpress.com/Sholikin, Makalah peranan mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
http://sh0likhin.wordpress.com

Tentang radianjs

saya seorang produser , sutradara , aktor untuk film yang berjudul "Jalan Hidup Radian Situmeang" .
Pos ini dipublikasikan di kuliah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s